SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng Terima 1 Unit Papan Tulis Pintar, Pembelajaran Menjadi Lebih Dinamis dan Merata
Pangkalan Banteng, 15 November 2025 — SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, resmi menerima satu unit perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Tulis Pintar (Smartboard) sebagai bagian dari program digitalisasi pendidikan nasional yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pengiriman perangkat ini merupakan bagian dari distribusi tahap kedua program nasional yang menargetkan 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia, dengan 271 ribu di antaranya telah lolos verifikasi dan siap menerima. SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng menjadi salah satu dari ribuan sekolah di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang berhasil memenuhi kriteria ketat verifikasi melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), validasi Dinas Pendidikan Kabupaten Lamandau, serta surat pernyataan kesediaan dari pihak sekolah.
Kepala SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng, Ibu Siti Rahayu, mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran smartboard ini. “Ini adalah tonggak sejarah bagi kami. Sekolah kami yang berada di pinggiran sungai dan jauh dari pusat kota akhirnya bisa menikmati teknologi yang selama ini hanya dilihat di berita. Sekarang, murid-murid kami bisa belajar seperti anak-anak di Jakarta.”
Perangkat yang diterima dilengkapi fitur layar sentuh multi-touch, penyimpanan konten offline, dan koneksi stabil meski tanpa internet. Untuk mendukung akses di daerah dengan listrik tidak stabil, perangkat juga telah dilengkapi baterai cadangan dan sistem pengisian daya solar yang bekerja sama dengan PLN setempat.
Guru yang menjadi pengguna pertama di sekolah, mengatakan bahwa pembelajaran langsung berubah. “Dulu, menjelaskan sistem peredaran darah hanya dengan gambar di buku. Sekarang, saya bisa memutar animasi 3D jantung yang berdenyut, memperbesar pembuluh darah, bahkan meminta siswa menyentuh layar untuk menunjukkan alur darah. Anak-anak teriak ‘Wah!’ setiap kali ada perubahan,” ujarnya dengan senyum lebar.
Siswa mengaku lebih semangat datang ke sekolah. “Dulu kalau guru jelasin fisika, saya sering bingung. Tapi sekarang, bisa lihat sendiri bagaimana gelombang suara itu merambat. Saya bisa main-main di papan, jawab soal, dan dapat poin. Rasanya seperti main game, tapi ilmunya nyata,” ujarnya.
Program ini tidak hanya memberikan perangkat, tetapi juga pendampingan. Guru-guru SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng telah mengikuti pelatihan daring melalui platform Rumah Pendidikan dan menerima modul belajar mandiri yang bisa diakses secara offline. Selain itu, mereka tergabung dalam komunitas guru digital Kalimantan Tengah untuk saling berbagi strategi pembelajaran.
“Smartboard ini bukan pengganti guru, tapi jembatan,” kata Ibu Siti. “Kami tetap menjadi fasilitator. Hanya saja, sekarang kami punya alat yang membuat setiap pelajaran jadi hidup. Anak-anak tidak lagi takut belajar — mereka justru ingin tahu lebih banyak.”
Dengan terpenuhinya satu unit perangkat ini, SMP Negeri 2 Pangkalan Banteng menjadi simbol keberhasilan kebijakan nasional dalam menjangkau daerah paling terpencil. Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen menegaskan, hingga Desember 2025, seluruh sekolah yang telah diverifikasi akan menerima perangkat ini — tanpa terkecuali.
“Tidak ada lagi sekolah yang tertinggal. Di mana pun anak Indonesia berada, mereka berhak mendapat pendidikan berkualitas — dan teknologi adalah bagian dari hak itu,” ujar Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, dalam pernyataan tertulisnya.
Di tengah hutan dan sungai yang tenang, di sebuah kelas kecil di Kalimantan, sejarah pembelajaran baru mulai ditulis — dengan sentuhan jari, cahaya layar, dan semangat yang tak lagi terbatas oleh jarak.