PLTS Capai 3,5 GW, Dorong Kemandirian Listrik dan Industri Hijau di Tengah Transisi Global
Pada tahun 2025, Indonesia mencatatkan lompatan signifikan dalam pengembangan energi surya, dengan total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencapai lebih dari 3,5 gigawatt (GW) — sebuah angka yang meningkat hampir dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Dengan target nasional untuk mencapai 23% bauran energi terbarukan pada 2025 dan netralitas karbon pada 2060, energi surya kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan tulang punggung strategi transisi energi negara ini.
PLTS Atap: Revolusi dari Bawah
Salah satu keberhasilan terbesar datang dari program PLTS atap, yang kini telah diadopsi oleh lebih dari 120.000 rumah tangga, 8.500 UMKM, dan 1.700 fasilitas publik di seluruh penjuru Nusantara. Program ini didukung oleh kebijakan net metering yang dinamis, memungkinkan pengguna menjual listrik surplus ke jaringan PLN dengan tarif yang kompetitif. Di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kawasan perkotaan menjadi pusat adopsi tercepat — terutama di gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sekolah. Sebuah studi dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa PLTS atap mampu mengurangi biaya listrik rumah tangga hingga 40% dalam jangka waktu lima tahun.
Terobosan di Luar Jawa: PLTS 145 MW di NTB
Pada Desember 2024, proyek PLTS terbesar di Indonesia secara resmi beroperasi di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Dengan kapasitas 145 MW, proyek ini bukan hanya yang terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu yang paling modern di Asia Tenggara. Dibangun oleh konsorsium nasional yang melibatkan PT PLN, PT Wijaya Karya, dan investor Jepang, proyek ini mampu menyuplai listrik ke lebih dari 200.000 rumah tangga di wilayah timur Indonesia yang selama ini bergantung pada genset berbahan bakar diesel mahal dan polutif.
“Ini adalah titik balik. Kita tidak lagi hanya mengejar energi terbarukan, tapi membangun sistem energi yang inklusif dan merata,” ujar Menteri ESDM, Arifin Tasrif, saat peresmian.
Industri Hijau dan Kemandirian Teknologi
Pemerintah juga menggulirkan insentif fiskal dan non-fiskal bagi industri manufaktur lokal yang memproduksi panel surya, baterai penyimpanan, dan inverter. Sejak awal 2024, perusahaan seperti PT Solara Energy Indonesia dan PT Surya Energi Maju telah mulai memproduksi panel surya dengan efisiensi hingga 22,5% — setara dengan produk impor kelas atas. Targetnya: mengurangi ketergantungan impor panel surya dari Tiongkok dan Korea Selatan dari 92% menjadi di bawah 60% pada 2027.
“Kita tidak ingin hanya menjadi konsumen. Kita ingin menjadi produsen energi bersih di kawasan,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana.
Kolaborasi Sektor Privat dan Inovasi Teknologi
Perusahaan multinasional dan lokal berlomba-lomba mengadopsi energi surya. PT Astra International memasang PLTS 20 MW di kompleks industri Karawang, menjadikannya salah satu pabrik terbesar di Asia yang beroperasi 100% dengan energi surya. PT Semen Indonesia (Semen Gresik) menggabungkan PLTS dengan teknologi green hydrogen untuk proses produksi semen, sementara PT Telkom memasang panel surya di ribuan menara BTS guna mengurangi emisi karbon dan biaya operasional.
Di sektor pendidikan, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung telah meluncurkan laboratorium riset energi surya berbasis AI untuk memprediksi produksi listrik berdasarkan pola cuaca lokal — sebuah inovasi yang sangat relevan mengingat iklim tropis Indonesia yang dinamis.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Meski progresnya pesat, tantangan tetap ada: infrastruktur jaringan listrik yang belum siap menyerap kapasitas besar PLTS di daerah terpencil, kurangnya tenaga ahli teknis di daerah, serta regulasi yang masih berubah-ubah. Namun, pemerintah telah menyiapkan Roadmap PLTS 2030, yang mencakup pembangunan smart grid di 10 provinsi prioritas, pelatihan 50.000 teknisi energi surya, dan integrasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai (ESS) skala besar.
Masa Depan Energi Indonesia: Dari Ketergantungan Menuju Kepemimpinan
Dengan potensi sinar matahari rata-rata 4,8 kWh/m²/hari — salah satu yang tertinggi di dunia — Indonesia memiliki keunggulan alamiah yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Para ahli memperkirakan, jika seluruh atap gedung publik dan komersial di Indonesia dipasangi PLTS, potensi kapasitas bisa mencapai 150 GW.
“Energi surya bukan hanya soal listrik. Ini soal kedaulatan energi, keadilan sosial, dan ketahanan iklim,” ujar Dr. Rina Wijayanti, pakar energi dari LIPI. “Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara berkembang lain: bagaimana memanfaatkan sumber daya alam untuk membangun masa depan yang berkelanjutan — tanpa menunggu bantuan luar.”
Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia tidak hanya mengejar target energi bersih — ia sedang membangun identitas baru sebagai kekuatan energi terbarukan Asia Tenggara, yang berakar pada kearifan lokal, inovasi teknologi, dan komitmen yang tak tergoyahkan.
Catatan: Data berdasarkan laporan Kementerian ESDM, PLN, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per November 2025.